Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011

Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia

Jembatan merupakan salah satu hasil rekayasa infrastruktur yang berfungsi sebagai penghubung untuk mempermudah dalam memenuhi kebutuhan akan transportasi manusia. Pada umumnya Jembatan-jembatan dibangun di lokasi di atas sungai, lembah, atau laut yang memisahkannya. Tetapi, di suatu tempat di dunia ini, jembatan-jembatan yang menghubungkan sungai-sungai itu tidak dibangun, melainkan hidup dan tumbuh secara alami!
Berikut adalah Tiga Jembatan yang terbuat dari Akar Pohon Paling Unik di Dunia
Inilah 3 Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia1. Jembatan Akar di India
Di kedalaman India sebelah tenggara, di salah satu lokasi paling basah di muka bumi, jembatan-jembatan dibuat dengan cara yang sangat aneh dan unik.

Tumbuh dari akar-akar pohon karet, orang-orang Khasis di Cherrapunjee menggunakan batang pohon pinang, membelahnya dan mengeluarkan isinya untuk membuat apa yang disebut "penunjuk akar". Saat dibentangkan dan mencapai sisi pinggir sungai lainnya, mereka mulai menyatukannya dengan akar-akar dari tanah. Dengan berjalannya waktu, jembatan yang kokoh dan hidup mulai terbentuk.


Inilah 3 Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia
Jembatan-jembatan akar itu beberapa di anatarnya mencapai 30 meter, membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk bisa difungsikan penuh, dan menjadikannya sangat kokoh. Beberapa sanggup menahan beban hingga 50 orang sekaligus.
Inilah 3 Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia
Salah satu struktur yang paling unik di Cherrapunjee dikenal dengan sebutan "Umshiang Double-Decker Root Bridge." Terdiri dari dua lapis jembatan, di atas dan dibawahnya.
Karena jembatan-jembatan ini hidup dan masih terus tumbuh, membuatnya semakin kokoh saja. Beberapa jembatan akar yang tua sudah digunakan tiap hari oleh orang-orang desa di sekitar Cherrapunjee sejak lebih dari 500 tahun yang lalu.

Inilah 3 Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia
Inilah 3 Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia
2. Jembatan Tanaman Merambat di Lembah Iya, Jepang
Salah satu dari tiga lembah-lembah "tersembunyi", di Jepang, West Iya merupakan tempatnya ngarai berkabut, sungai bersih, dan atap-atap jerami atau daun, seperti menggambarkan Jepang berabad yang lalu. Untuk menyeberangi sungai Iya yang mengalir di sepanjang lereng lembah, para perampok, para kstria, dan pengungsi membuat sebuah jembatan khusus yang dibuat dari tanaman merambat.
Di bawah ini adalah gambar dari satu jembatan dari tanaman merambat pada tahun 1880:

Pertama, dua tanaman Wisteria - salah satu tanaman merambat paling kokoh - ditanam hingga sangat panjang dari kedua sisi sungai. Saat tanaman itu mencapai panjang yang cukup, lalu dianyam bersama papan untuk membuat suatu rekayasa botani yang hidup, lunak tapi sangat kokoh.

Jembatan-jembatan itu tidak punya sisi-sisi, dan sebuah sumber sejarah orang Jepang menunjukkan bahwa jembatan tanaman ini tidak stabil, dan yang mencoba menyeberanginya pertama kali seringkali membeku di tempat, tidak mampu melanjutkan lebih jauh lagi.
Inilah 3 Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia
Tiga dari jembatan-jembatan itu masih ada di lembah Iya. Meski beberapa (tidak semua) jembatan-jembatan itu diperkuat dengan kabel dan lajur sisi-sisi, tetap saja menakutkan untuk diseberangi. Panjangnya lebih dari 42 meter, dengan papan yang dipasang setiap 6 hingga 8 inci, dan faktanya satu jatuh ke air dari 4,5 cerita, membuatnya tidak cocok buat pengidap acrophobia (takut ketinggian).
Beberapa orang percaya jembatan-jembatan tanaman merambat yang masih ada itu pertama kali dibuat pada abad 12, yang menjadikannya beberapa di antara contoh-contoh arsitektur hidup tertua di dunia.

3. Jembatan Akar di Sumatera Barat, indonesia
Inilah dia objek wisata andalan Kabupaten Pesisir Selatan yang merupakan salah satu jembatan yang terunik di dunia.jembatan yang kuat dan menjadi penghubung dua daerah antara Jorong (Dusun) Puluik-Puluik dan Lubuak Silau, Desa Lubuak Silau, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Dari informasi yang berhasil dirangkum salah seorang tokoh masyarakat sekaligus ketua pemuda Pulik-puluik, Herman Datuak Rajo Bandaro, jembatan tersebut dibuat karena seorang ulama yang bernama Pakih Sokan kasihan melihat murid-murid mengajinya dari Pulik-puluik sering tidak datang karena aliran batang bayang kerap meluap.

Pada tahun 1916 Pakih Pohan menanam dua batang jawi-jawi (sejenis pohon beringin yang berdaun lebar), pohon jawi-jawi tersebut ditanam di dua lokasi satu di daerah Pulik-puluik dan satu lagi di daerah Lubuak Silau yang dipisahkan dengan batang bayang. Lalu akarnya yang bergantungan dijalin di batang bambu yang dijadikan jembatan sebagai tulang jembatan akar. Setelah 3 tahun lamanya akar dua pohon jawi-jawi tersebut bertaut namun belum bisa dilalui.
Inilah 3 Jembatan Akar Pohon Paling Unik di Dunia
Kemudian Pakih Pohan mengadakan acara mandabiah kambing (potong kambing) dan mandarai aka (memberikan darah pada akar yang bertaut tersebut). "Ini sebagai tanda syukuran bahwa akar jawi-jawi yang dihubungkan sudah bertaut, sebagai tanda akan terjadi pertautan kembali," tambah Herman.

Untuk menjadikan sebuah jembatan yang bisa dilalui membutuhkan waktu selama 20 tahun maka jembatan tersebut bisa ditempuh warga Puluik-puluik yang hendak mau ke Lubuak Silau.
Sampai sekarang jembatan tersebut berukuran panjang 30 meter dan lebar 1 meter dengan ketinggian dari permukaan batang bayang sekitar 10 meter dan saat ini umur jembatan tersebut sudah 93 tahun dan masih bisa dilalui warga dari daerah Pulik-puluik sebanyak 25 kepala keluarga begitu juga warga yang hendak kedaerah Pulik-puluik...
Baca Selengkapnya.................

Rabu, 16 Maret 2011

CERITA DARI " BUKIT ARJUNA "

Bukit Arjuna

SIAPA pun akan kecewa jika berharap akan menemukan gundukan tanah yang menjulang tinggi di Bukit Arjuna.  Tempat itu menipu banyak orang dengan namanya. Terletak di pinggiran jalan yang dipenuhi dengan pohon karet tua yang ditanami dengan jarak seimbang. Pohon karet di sisi kanan dan kiri jalan berbaris dengan rapi di atas permukaan tanah yang rata. Mereka terlihat seperti serdadu tua yang kalah perang; kulit-kulit keriput yang tak lagi menghasilkan getah. Ditebang sayang, karena sudah berjasa dan tak ada biaya meremajakan pohonnya setelah perusahaan milik negara mengeksploitasi selama puluhan tahun. Akhirnya dibiarkan telantar sampai kemudian dimanfaatkan warga sekitar yang menyadap getah dari batang-batang yang lelah.

Entah siapa memulai, di tanah datar itu mulai dibangun sejumlah warung.  Awalnya hanya warung sederhana dari tepas bambu. Atapnya dari daun rumbia. Tak ada lantai semen, apalagi keramik.  Jualannya hanya rokok dan minuman ringan. Beberapa pekan kemudian mulai ada gorengan pisang, tahu, tempe, dan bakwan. Kemudian muncul beberapa kedai minuman. Mulanya hanya minuman kopi dan teh yang diseduh dengan air dari termos. Seiring kian ramainya tempat tersebut, muncul satu-dua warung yang menjual minuman ringan dari kaleng. Mula-mula minuman kaleng biasa, akhirnya ada juga yang menjual minuman beralkohol. Kini semua warung di kebun karet itu menjajakan  minuman keras murahan.

Ketika matahari mulai tenggelam sampai muncul kembali keesokan pagi, tempat itu ramai oleh pengunjung. Mereka adalah para sopir truk yang hilir-mudik di jalan antarprovinsi untuk mengangkut berbagai hasil bumi. Malam hari, terutama malam Sabtu dan Minggu, terlihat truk berjejer di pinggir jalan. Sopir memarkirkan truknya dengan rapi seolah mereka tidak ingin mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Terkadang ada mobil-mobil pribadi berhenti dan parkir di bawah pohon karet. Mungkin pemiliknya tidak ingin terlihat singgah di tempat itu. Dengan lampu dari warung yang berjejer di kebun karet, dengan lampu kendaraan yang berkelap-kelip saat sopir truk datang dan pergi, Bukit Arjuna terlihat seperti kunang-kunang yang menari sepanjang malam.

Aku sering melintasi tempat itu dalam perjalanan darat menuju Medan. Selama ini, Bukit Arjuna tidak pernah mengundang perhatianku. Kalau jalan di siang hari, Bukit Arjuna sedang mati. Malam hari aku lebih banyak tertidur di dalam bus yang nyaman. Jadi, aku tidak pernah melihat Bukit Arjuna menari seperti kunang-kunang. Bahkan mendengar namanya saja tidak pernah seandainya tidak ada juru kamera sebuah stasiun TV yang diculik sekelompok gerilyawan.

Bersama puluhan wartawan lainnya, aku meliput pembebasan juru kamera tersebut yang kabarnya disandera jauh dari Bukit Arjuna. Lima wartawan yang dipercayai gerilyawan, ikut bersama mediator ke hutan belantara yang menjadi lokasi penyanderaan.  Mereka ingin wartawan ikut melihat langsung bahwa sandera diperlakukan secara baik-baik. Gerilyawan terpaksa menyandera juru kamera tersebut karena dalam mobilnya ditemukan seorang perempuan yang ternyata istri tentara. Gerilyawan curiga juru kamera itu intel yang menyaru sehingga ditahan beberapa hari untuk diperiksa. Namun, operasi militer besar-besaran membuat para gerilyawan pindah dari satu hutan ke hutan lainnya sehingga juru kamera itu pun terpaksa dibawa. “Kami sudah berniat melepaskan Arjuna. Tapi operasi militer membuat posisi kami sulit,” begitu kata panglima gerilyawan wilayah timur kepada wartawan melalui telepon satelit.

Nama juru kamera itu memang Arjuna. Aku hendak mengatakannya sebagai sebuah kebetulan. Tapi ustad pernah mengingatkanku bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tidak ada sebutir pasir pun yang bergeser dari tempatnya tanpa kehendak Allah. Aku percaya itu.

Sambil menunggu kabar berikutnya, kami memutuskan untuk minum-minum di Bukit Arjuna. Tak peduli munculnya kecurigaan orang maksud keberadaan kami di sana. Wartawan selalu ada dalih; untuk investasi. Dan alasan itu tak sepenuhnya salah ketika kami melihat kenyataan ternyata Bukit Arjuna menjadi tempat pekerja seksual bertransaksi dengan sopir truk. Seorang lelaki tua pemilik warung, bercerita asal muasal nama Bukit Arjuna.

“Dulu, ada wartawan bernama Arjuna disandera dan kemudian ditembak mati. Kabarnya, mayatnya dikuburkan di sini. Tapi tidak diketahui pasti.” Senyum nakal kami saat melirik seorang perempuan muda berpakaian minim seketika cair mendengar kalimat itu. Seorang rekan sampai bertanya kembali untuk menegaskan pendengarannya. Tak ada di antara kami yang pernah mendengar kisah penyanderaan sebelumnya, sehingga setiap kata yang ke luar dari mulut lelaki itu membuat keterkejutan kami kian menjadi. Juru kamera disandera, dan tewas dalam kontak senjata. Gerilyawan terjepit operasi militer besar-besaran, dan kemudian jenazah Arjuna terpaksa dikuburkan seadanya di tempat ini yang tidak diketahui pasti. Mungkin di dalam bilik yang dari dalamnya kami mendengar desahan perempuan, atau jangan-jangan di bawah kaki kami.

 Aku memandangi wajah rekan-rekan. Mereka terdiam dengan muka tegang seolah kejadian itu akan terulang lagi terhadap Arjuna. Tak ada di antara kami yang bergerak. Kami masih menunggu, mungkin sampai pagi. Menunggu kabar baik di tempat seburuk ini.
Bukit Arjuna, awal Januari 2011
Sumber Postingan : Ayi Jufridar
Baca Selengkapnya.................

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...