Rabu, 28 Januari 2015

Menyibak Tragedi Pantai Karang Hawu " Like Earth "


Sobat Blogger....

Kemarin sebenernya nggak ada rencana mau jalan kesana lho padahal sebelumnya rencana saya dan Dhimas tadinya mau ke Pantai Pondok Bali yang ada di Subang, tetapi setelah saya ambilkan gambar2 dari Internet tentang Tempat Wisata Pondok Bali dan juga Tempat Wisata di Sukabumi, Eh..... nggak tahunya setelah menyimak dari perbandingan antara 2 (dua) tempat wisata tersebut ternyata baik Dhimas maupun Mamahnya sangat tertarik dengan yang opsi ke 2 yaitu tempat wisata ke Sukabumi dengan alasan selain lebih banyak pilihan juga lebih familier tempat2nya, padahal klo di lihat dari segi Jarak maupun Waktu tempuh relatif lebih jauh dan lama yah selisihnya sih sampai sekitar 3 jam,

Pelabuhan Ratu ini terletak di Sukabumi bagian selatan, kurang lebih sekitar 64 km kalo ngukur jarak dari Kota Sukabumi ke pusat Pelabuhan Ratu-nya. Kami sebenarnya dari awal berencana menginap di seputaran Pantai Karang Hawu dimana klo dilihat dari posisinya berada tepat ditengah-tengah antara Pantai Pelabuhan Ratu dengan Pantai Suwarna.

Sekitar jam 14.00 siang, sampai juga kami sekeluarga di Pelabuhan Ratu. Udara khas yang panas dan bau laut segera dapat kami rasakan. Sempat terkesima melihat Pelabuhan Ratu saat ini dibanding saat waktu saya kesana saat Bujangan dahulu. Terminal bis yang sekarang ini rasanya dahulu merupakan lapangan yang kosong. Dahulu hanya ada beberapa toko disini, dan hanya merupakan pasar tradisional. Sekarang sudah berubah. Pasar dan terminal kini menyatu di lokasi ini. Ramai dan terkesan semrawut. Ah, biasa. Pasar dan terminal memang demikian keadaannya bukan? Melepaskan diri dari keramaian terminal dan pasar, sampailah kami ke jalan raya yang menghubungkan Pelabuhan Ratu menuju kearah Cisolok. Keadaan disini tidak se-semrawut keadaan di sekitar terminal dan pasar tadi.

Sobat Blogger......

 Ada tempat yang cukup berkesan khususnya bagi saya di Pelabuhan Ratu ini. Namanya Gado Bangkong. Itu semacam tembok beton berbentuk jalan yang menjulur dari sisi pantai kearah laut lepas. Dahulu tempat ini merupakan tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan. Disini kerap ditemui tumpukan-tumpukan jaring penangkap ikan. Dibiarkan bergulung membentuk semacam gunung-gunung kecil.
Masih ingat, dulu masa saya bujangan bersama teman-teman SMA saya (Jass Group) sempat bermalam dan tidur diatas jaring penangkap ikan ini. Yang pasti sih akhirnya pakaian saya berbau ikan. Tapi betapa nikmatnya tiduran sambil menengadah memandang langit berbintang dari atas jaring penangkap ikan ini. Kini Gado Bangkong hanya merupakan bangunan yang dibiarkan begitu saja. Melihat akses yang tertutup kesini, saya berpikir kemungkinan Gado Bangkong ini akan dihancurkan. Setidaknya ini kesimpulan personal saya saat menjejakkan kaki diatas Gado Bangkong. Saya melihat beberapa orang sedang asyik memancing diujung Gado Bangkong…
Memandang ke sebelah kiri dari Gado Bangkong akan terlihat pasar ikan beserta bangunan masjid yang berada di paling ujung menjulur ke laut. Di laut lepas, terlihat bangunan terapung tempat menjaring ikan. Bangunan ini berbentuk persegi empat dengan semacam tenda diatasnya, merupakan semacam perahu, namun statis, tidak bergerak. Ini semacam tempat mangkalnya nelayan untuk menjaring ikan disana. Belakangan baru tahu kalau bangunan ini bernama pagang.





Pantai pertama yang jadi tempat pemberhentian kita adalah Pantai Citepus. Untuk pantainya sih sebenarnya nggak terlalu bagus, soalnya banyak sampah, hiks. Tapi bisa duduk-duduk di sebelah pantai, karena lokasinya adem di pinggir pantai, dan banyak jajanan juga bahkan ada juga yang berjualan batu akik lho.....

                













              

Memperhatikan pantai Citepus, setidaknya ada dua hal baru yang kini dapat temukan. Yang pertama adanya Pos Life Guard berdiri disini. Pos yang berdiri menghadap laut ini terlihat cukup kokoh berdiri diatas pasir pantai. Pos ini terdiri dari 3 lantai. Cukup untuk memonitor pengunjung-pengunjung yang biasa berenang di pantai ini. Hal kedua adalah kini banyaknya bale-bale sewaan di sekitar pantai. Bale-bale ini berbentuk bangunan panggung yang dibuat bersekat, terbuat dari kayu dan bambu. Luas setiap bale-bale berbeda-beda. Kalau saya perhatikan rata-rata luasnya sekitar 3 x 3 m. Cukup untuk rebah dan tiduran disini…













Kita agak lama juga di Pantai Citepus bahkan Dhimas dan Salsha sempat berenang dan bercanda denga Sang Ombak terutama Princes satu itu yang udah nggak sabar setelah selama kurang lebih 6 jam perjalanan sudah membayangkan bersenda gurau dengan deburan Ombak dan Buih di pantai. Setelah kami rasa sudah cukup menikmati suasana pantai Citepus dan hari juga sudah menjelang petang maka kami segera berbenah untuk melanjutkan perjalanan agar bisa mendapatkan tempat bermalam dan berharap dapat kesempatan menghadang datangnya pesona saat-saat Sang Mentari Terbenam menuju Peraduannya,








Maka sampai jugalah kami di Pantai kedua yang disambangi adalah Pantai Karanghawu. Sesuai namanya, banyak batu karangnya disini, dan pemandangannya rada-rada mirip Tanah Lot gitu. Menurut saya pantai ini lebih bagus dibanding Pantai Citepus, dan katanya sih, semakin ke barat pantainya semakin bagus karena semakin tak terjamah.

Selama dalam perjalanan ke pantai Karang Hawu kamipun mampir ke beberapa penginapan seperti yang di rekomendasikan oleh beberapa artikel tang kami baca sebelum berangkat , namun ternyata hati kami kurang begitu srek dengan kondisi dan fasilitas penginapan dan juga dari segi harganya, dan setelah kami pertimbangkan maka sepakat kami putuskan mencari Hotel saja untuk bermalam dan setelah kami selusuri maka kami jatuh hati pada salah satu Hotel x0x0x0x0x ( Sensor.com) letaknya itu kurang lebih sekitar 500 km dari Pantai Karang Hawu pas dipinggir jalan raya sich... Pas masuk ke Hotelnya, suka banget. Awalnya kesannya rada creepy, soalnya sepi nian (padahal katanya tempat itu selalu penuh saat akhir pekan) tapi nggak beberapa lama kemudian ada satu keluarga nempatin kamar di sebelah kamar kita, jadi suasananya nggakspooky, hehe.. Tempatnya adem, kamar yang kita tempati juga luas ( Karena kita kebetulan pilih salah satu kamar VIP di hotel tersebut, bersih dan nyaman sich dimana selain selain fasilitasnya yang seru lagi ,



















Hotel ini punya semacam private beach, jadi pantainya sepi sekali, betah deh duduk-duduk di pinggir pantai, ngobrol dan nge-teh bareng ( Seru itu klo bagi pasangan Kawula Muda yang merasa dunia itu hanya milik mereka berdua tentunya hehehehehe...) Kalau buat orang yang suka thrilling activities, mungkin disini rada membosankan ya, nggak ada wisata air atau permainan lainnya. Cuma buat orang-orang yang suka liburan tenang dan quality timesama pasangan atau keluarga, cocok banget deh disini walaupun ternyata airnya agak kurang bersih sich....yah mungkin karena lokasinya dekat dengan pantai kali yah? Namun itu bagi kami sekeluarga bukanlah menjadikan sesuatu yang besar tetak kami buat enjoy aja keleeeees.....
 Setelah singgah sebentar dihotel dan menaruh barang-barang, menjelang jam 6 sore, kami memutuskan juga kearah pantai Karang Hawu yang rencananya sich sambil menikmati Sunsite sekalian juga wisata kuliner ikan bakar kesukaan Sang Permaisuri tercinta. Pantai Karang Hawu memiliki ciri utama tebing dan karangnya menjorok ke laut.


Pantai Karang Hawu merupakan salah satu pantai yang cukup terkenal di Sukabumi. Pantai ini disebut Karang Hawu karena di areal pantai ini ada sebuah karang yang menjorok ke laut dan memiliki lubang di beberapa bagiannya yang berbentuk menyerupai tungku (atau hawu dalam bahasa sunda). Makanya karena itu, pantai ini kemudian dinamakan Pantai Karang Hawu.
Konon, salah satu tebing itu merupakan tempat Nyai Roro Kidul (putri Prabu Siliwangi) mencemburkan diri ke laut karena frustasi dengan penyakit yang dideritanya. Setelah mencemburkan diri, akhirnya penyakit sang putri itu sembuh, tapi konsekuensinya sang putri harus tinggal di laut dan tidak bisa kembali ke bumi lagi. Sang putri itulah yang kemudian disebut Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan. Masyarakat pantai selatan khususnya Pelabuhan Ratu, percaya adanya penguasa laut selatan yaitu Ratu Kidul. Ia dipercaya sebagai seorang ratu yang cantik bagai bidadari. Di Laut Selatan - nama lain dari Samudra Hindia - sebelah selatan Pulau Jawa, ia bertahta pada sebuah kerajaan makhluk halus yang besar dan indah. Pada bulan April biasanya masyarakat sekitar Palabuhanratu mengadakan ritual upacara adat Hari Nelayan. Hari Nelayan dimaksudkan sebagai syukuran atas rezeki yang telah mereka dapatkan dari hasil laut dan agar dijauhkan dari bencana. Biasanya dalam upacara ini disediakan sesaji berupa kepala kerbau yang nantinya akan dilarung ke tengah laut.






Pantai Karang Hawu memiliki panorama alam yang indah, udaranya sejuk, dan hamparan pasirnya yang luas dan lembut. Di tempat ini, pengunjung dapat melakukan aktivitas seperti surfing, berenang, dan memancing. Selain itu, pengunjung juga dapat berlari-lari, jalan santai, maupun duduk bersantai di atas pasir yang lembut sambil menghirup udaranya yang sejuk dan melihat tebing dan karang yang tampak menakjubkan.
Konon, karang yang menjorok ke laut itu merupakan singgasana Nyai Roro Kidul, penguasa Laut Selatan.










Pada beberapa cekungan batu karang itu terdapat genangan air yang jernih. Banyak para pengunjung yang memanfaatkan air itu untuk mandi atau membasuh mukanya karena hal itu diyakini dapat membawa berkah. Bahkan tak sedikit pengunjung yang sengaja memasukan air tersebut ke dalam botol untuk dibawa pulang. Persisnya, singgasananya terletak di atas bukit karang yang menjorok ke lautan lepas Samudra Hindia. Di bukit karang itulah Nyi Roro Kidul diyakini pernah menyendiri dan bertapa. Cerita legenda tersebut tak hanya berkembang di masyarakat Sunda, tapi juga konon dipercaya presiden pertama RI, Ir. Soekarno.








Konon, Sang Proklamator itu pernah bertapa di patilasan Nyi Roro Kidul. Dalam cerita rakyat Sunda disebutkan, Nyi Roro Kidul atau Putri Lara Kadita adalah putri kesayangan dan paling dicinta ayahnya, Prabu Siliwangi. Selain dikagumi karena kecantikan parasnya, sang putri juga dikenal berbudi halus. Kecantikan dan kasih sayang berlebih itulah yang kemudian menimbulkan rasa iri dan dengki para selir Prabu Siliwangi. Puncaknya, para selir itu mengirim sihir sehingga sang putri menderita penyakit kulit yang tak ada obatnya. Sang putri pun terusir dari istananya dan berjalan menuju ke arah selatan hingga ke puncak bukit Karanghawu untuk kemudian bertapa. Dalam tapanya, sang putri mendapat wangsit untuk terjun ke laut selatan (Samudra Hindia) agar sakitnya pulih dan menjadi manusia sakti.

Karena kesaktiannya itulah, sang putri kemudian menjadi penguasa Laut Selatan dan berjuluk Ratu Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul. Tak jauh dari bibir pantai juga terdapat dua pegunungan yang nampak asri, yaitu Pegunungan Winarum dan Pegunungan Rahayu. Untuk menuju puncak pegunungan itu, pengunjung harus berjalan kaki melalui jalan setapak. Selama pendakian pengunjung juga dapat menikmati indahnya suasana pantai dari ketinggian. Di puncak Pegunungan Winarum tersebut, terdapat makam dan petilasan yang dikeramatkan, yaitu makam Syeh Hasan Ali, seorang ulama besar dan cukup terkenal di daerah Sukabumi. Pada zaman dulu di bukit ini juga pernah dijadikan tempat pertemuan 40 ulama besar dalam mengatur strategi penyebaran agama Islam di daerah selatan Sukabumi. Kemudian di puncak Pegunungan Rahayu terdapat makam seorang tokoh penyebar agama Islam yang bernama Raden Dikudratullah dan Raden Cengkal (aliem)









Begitu sampai di Lokasi ternyata nggak semua yang kita impikan dapat terkabulkan seperti yang kita harapakan sebelumnya terutama bagi Jagoanku Dhimas yang dari awal sangat berharap dapat menikmati dan mengabadikan keindahan datangnya Sunsite dengan Kamera SLR Nikon D5000 kesayangannya itu, karena ternyata saat indahnya Sunsite tidak dapat dinikmati seperti saat beberapa bulan yang lalu saat kami berlibur ke Pantai Santolo di daerah Garut Selatan kala itu kenapa cih......???? Eeh.... nggak tahunya posisi Arah Barat dimana tempat Sang Mentari tenggelam terhalang oleh seonggok hamparan Pegunungan yang agak puanjang....







Akhirnya kami gunakan untuk mengobati kekecewaan ini dengan jalan jalan di pinggir pantai sambil mencari momen photo sebagai bahan kenang-kenangan sambil memperhatikan sekeliling dimana dikejauhan tampak sekelompok anak remaja asyik bermain bola.... beberapa anak remaja ini masih terduduk di tepi pantai. Mungkin mereka menanti senja tiba juga. Walau akhirnya hanya menatap kerlip lampu di lepas pantai. Kerlip dari perahu-perahu atau dari pagang di laut lepas…

Setelah suasana mulai gelap dan bagi kami juga kurang tepat apabila masih berada disana ... terutama bagi Pangeran dan Putri kami Dhimas dan Salsha walaupun suasana tersebut sangatlah dinantikan oleh banyak sepasang muda-mudi disana yang sedang dilanda Asmara dimana didukung dengan adanya banyak fasilitas Tenda-Tenda tanda kutip di bibir pantai yang menawarkan kesenangan dan kesyahduan bagi yang cocok dan berniat untuk mengagumi dan memanfaatkannya dengan para pasangan.

Maka segera sebelum hal dan pemandangan yang kurang mendidik bagi putra dan putri kami maka saya dan sang permaisuri memutuskan untuk keluar dari areal tersebut sambil sekalian mencari pakaian ganti untuk Princes kami yang basah karena terendam air pantai padahal kami nggak bawa pakaian ganti hal ini karena niat kami juga dari berangkat dari hotel hanya untuk menikmati suasana Sunsite saja nggak pake mainan air segala, tapi dasar aja Sang princes yang selalu nggak bisa nahan diri klo udah melihat rayuan percikan buih ombak yang sangatlah menggoda untuk disentuh...... Setelah beres bersih-bersih dan mengganti pakaian basah dengan pakaian baru berwarna biru bergambar ikan tuna pelabuhan ratu maka kami bergegas untuk wisata kuliner Ikan bakar , maka sampailah mata kami tertuju pada salah satu kedai ikan bakar yang dimana Kedai tersebut memberikan pelajaran melatih kesabaran yang sempat membuat jagoan kami memanfaatkan waktu menunggu datang pesanan sampai tertidur pulaaaaaaaas......

Menjelang jam 5.30 pagi,berharap dapat melihat keindahan sunrise seperti yang paling disukai dan di dambakan Dhimassebagai pengganti kekecewan gagalnya menikmati Sunsite kemarin maka kami sudah menginjakkan dipinggir pantai yang berada di belakang hotel (private beach) namun ternyata disana bukan hamparan pasir tetapi hanya hamparan bebatuan yang terbentang disana dan juga karena saat itu deburan ombak sangatlah besar sengingga kurang nyaman buat keselamatan maka kami sepakat putuskan untuk menyabangi kembali Pantai Karang Hawu yang kemarin sore kami kunjung tetapi kami pilih tempat yang sebelah barat dari lokasi kemarin sore akar menemui suasana baru.

Awalnya kami sekedar berjalan dengan kaki telanjang, merasakan pasir laut kidul yang lembut, sesekali ombak merendam kaki, sungguh nikmat rasanya. Jalan kaki sambil memperhatikan suasana pantai yang agak gelap. Perlahan warna langit yang gelap mulai tersibak. Warna biru tua mulai terlihat di langit… Setelah puas menikmati suasana pagi kamipun tidak melewatkan untuk mengambil untuk gambar dan sang jagoanku Dhimas dengan lincahnya memainkan jarinya bercengkrama dengan Kamera SLR D 5000 nya sebagai dokumentasi dan bahan untuk membuat lagu-lagu keluarga.





























































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...